Aku terkadang terlalu menggunakan kepala, terlalu mempersiapkan hal-hal dan harus yakin sebelum melewati jalan yang mungkin akan berbatu-batu, bercadas-cadas menganga, gigi-giginya menggigit dan menggores kulit kakiku yang. Orang bijak selalu mengucapkan, kita bertindak harus penuh perhitungan dan persiapan.
Demikian juga aku, walaupun bukan sebagai orang yang bijak wisesa, tapi prinsip kehati-hatian itu aku genggam erat dalam sanubariku. ”Elho itu terlalu berpikir, yang penting kamu utarakan apa yang kau rasakan pada gadis itu….btw gadis khan bukan janda. Jangan kau biarkan ketakutan mengambil alih biji-biji asmara yang sedang bertumbuh dalam ladang hatimu.” Aku berucap, ”Kalian mungkin benar, dan tidak salahnya aku mengikuti saran kalian saat ini, walapun masih didera keraguan, tapi aku akan mencoba saran kalian, akan aku katakan pada wanita itu tentang perasaan yang aku rasakan.
Tapi kalian tahu, apa yang harus aku katakan padanya? Dan mulut-mulut mereka pun berkomat-kamit merapalkan setiap mantera-mantera yang bisa aku katakan pada gadis itu yang akan meluluhkan hatinya, jantungnya. Aku pun hanya terpaku diam, mendengarkan setiap celotehan yang mereka katakan, celotehan yang aku tak mengerti, bahasa yang sangat asing bagi aku. Bahasa-bahasa yang belum pernah aku pelajari, bahasa yang bukan naluriku.
Dan mereka pun menghembuskan setiap racun desas-desus ke setiap penjuru mata angin bahwa sahabat mereka sedang jatuh cinta, sebentar lagi dia akan mengucapkan lara hati yang terpendam dalam lubuk hatinya. Sebentar lagi dunianya akan berubah, sebentar lagi sosok badan setengah jiwa itu akan penuh, akan sempurna, akan segera berakhir masa metamorfosisnya, akan segera menjadi kupu-kupu cantik dengan kepakan-kepakan sayap yang memukau. Sebentar lagi sahabat mereka akan menjadi pria, menjadi dewasa, bukan lagi hanya besar. Sebentar lagi dia tidak lagi menjadi pembicaraan sebagai cowok yang tidak laku-laku, sebagai cowok yang ’tidak normal’. Dan semuanya akan menjadi kebahagiaan.
Dalam hingar-bingarnya suara-suara yang dihembuskan sahabat-sahabatku bahwa aku sedang menanggung derita terjerat jaring-jaring asmara, aku menangisi diriku dalam kesunyian hati, dalam kehampaan sukma, dan kesepian diri. Hatiku sungguh biru, pilu. Hatiku gundah didera perasaan tak terucap. Aku harus mengambil tindakan untuk mencari pertolongan kejiwaan, pada orang yang tepat.
Aku mencoba me-recall file-file dalam otakku tentang sahabat aku yang berpotensi meringankan beban jiwaku, yang semakin memuncak, mencapai titik ubun-ubun kepalaku. Sungguh ingin pecah kepalaku memikirkan beban ini. Dalam sepersekian menit, sebuah nama berkelebat dalam ingatanku, Rachma, ya dia orang yang tepat. Seorang sahabat yang wise. Dia penyimak yang bagus, tidak hanya mendengar. Tidak banyak orang bisa menyimak meskipun mereka bisa mendengar, meskipun indera dengar mereka berfungsi sempurna.
“Malam Rachma, sorry malam-malam ganggu, boleh bercerita ga? Aku perlu seseorang yang bisa aku ajak sharing.” ”That’s fine, Yon, cerita aja segala yang membuatmu gundah.” Kemudian aku ceritakan padanya apa yang selama ini aku telah alami, aku perbuat. Aku telah menciptakan kesan bahwa aku sedang jatuh cinta, hanya agar aku terhormat dimata teman-teman aku. Hanya karena aku ingin tidak ditanya tentang hal-hal sepele itu. Aku tidak mau diingatkan oleh mereka akan umur yang terus berlari. Aku tidak mau dibanding-bandingkan.
Dan aku bertanya pada Rachma apa yang harus aku lakukan sekarang, haruskah aku jujur mengakui pada jiwa-jiwa haus itu bahwa sahabat mereka telah menyusun rekayasa, telah menciptakan belahan hati fiktif, ataukah aku harus menyimpan ini sebagai rahasiaku agar mereka menghormati aku, menyayangi aku. Dan Rachma menjawab bahwa aku tahu hal terbaik yang harus aku lakukan.
Penulis : Dwi Suatman
(Contoh Cerita Mini indosiar.com)



wi ini tokoh2nya anak sastra semua ya, sedikit masukan nih no offense but kayaknya pas dialog dikurangi EYD nya deh, okeh ditunggu munak III nya. go for it!!!
ok, terima kasih. kebetulan munak III ga ada, tapi dalam judul-lain aku akan pikirkan dan terapkan, thanks a lot
Dwi, kapan aku dijadikan tokoh? wkwkwkw.
ok mabak dike, tar aku nulis dengan tokok bernama dike yang cantik, baik hati, gak combonk, berpendidikan, berkarier bagus dll. he he he
Well done, sampai terbawa suasana daku. Terus berkarya ya. Ditunggu.
Mas, diksinya kok trlalu resmi bgt, kesannya formal gitu.
huah.. seorang penulis.. biasanya tak jauh dari hidup pribadinya..
dwi…kombinasi kosakata dalam kalimat bikin lebih menarik ya..
, terus berkarya deh , pake juga versi english nya
wah… padahal aku harap-harap ada lagi yang seperti ini
ayo bikin lagi mas…